Selasa, 26 November 2013

EYD dan Tanda Baca

Yang dimaksud dengan ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambnagkan bunyi ujaran dan bagaimana antar hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara tekhnis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.
Dari Ejaan Van Ophuijsen Hingga Eyd]

   a.            Ejaan Vab Ophuijsen
Pada tahun 1901 ditetapkan ejaan bahasa melayu dengan huruf laitn, yang disebut ejaan van ophuijsen.
1)      Huruf j dipakai untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
2)      Huruf oe dipakai untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
3)      Tanda diakritik, seperti kma, ain, dan tanda trema, dipakai untuk menuliskan kata-kata ma’moer, akal, ta, pa, dinamai.

    b.            Ejaan Soewand
Pada tanggal 19 maret 1947 ejaan soewandi diresmikan untuk menggantikan ejaan van ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
1)   Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
2)  Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
3)  Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti anak2, berjalan2, ke-barat2-an.
4)      Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan, dengan imbuhan di-pada ditulis, dikarang.

    c.            Ejaan Melindo
Pada akhir 1959 sidang perutusan indonesia dan melayu (slametmulyasana-syeh nasir bin ismail, ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudiaan dikenal dengan nama ejaan melindo (melayu-indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tanhu berikutnya mengurngkan peresmian ejaan itu.
    d.            Ejaan bahasa indonesia yang disempurnakan
Tata tulis (ejaan)
Ejaan bahasa indonesia yang disempurnakan (eyd) telah diberlakukan sejak tahun 1972 berdasarkan kepres no. 57 tahun 1972. Kaidah ini mengatur tiga hal, yaitu penulisan huruf, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca.

Penggunaan Huruf
Ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara Latin, yang terdiri dari 26 huruf. Setiap huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi atau satu fonem, kecuali gabungan huruf kh, ng, ny, dan sy yang juga digunakan untuk melambangkan satu bunyi, serta huruf e yang digunakan untuk melambangkan dua buah bunyi. Sementara huruf q dan x hanya digunakan pada kata serapan

Penggunaan Huruf Kapital
Huruf kapital atau sering juga disebut huruf besar digunakan pada  :
(a)     huruf pertama kata awal kalimat. Misalnya: Pada satu proses                        
(b)  huruf pertama pada kata pertama pada petikan langsung atau kalimat langsung, misalnya Hakim bertanya,  “Nama Saudara siapa ?”

(c)     huruf pertama kata atau ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama kitab suci, nama agama, termasuk kata gantinya.  Misalnya  : Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih; Quran, Weda, Islam, Kristen, Katolik.
 (d)   huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama diri. Misalnya : Mahaputera Yamin; Sultan Hasanudin; Haji Agus Salim; Imam Syafi'i; Nabi Muhammad.
 (e)     huruf pertama unsur nama jabatan dan nama pangkat yang diikuti nama diri, atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya  :  Wakil Presiden Budiono.              
 (f)      huruf pertama unsur-unsur nama orang. Contohnya  : Halim Perdana Kusuma.
(g)     huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama bahasa. Contohnya  :
bangsa Indonesia
       

(h)  huruf pertama nama tahun, nama bulan, nama hari, nama hari raya, dan nama peristiwa sejarah. Contohnya  :tahun Hijriah

(i)      huruf pertama nama geografi.  Contohnya  :
-  Asia Tenggara            -  Bukit Barisan
 (j)      huruf pertama unsur-unsur nama negara, nama lembaga pemerintahan, dan nama dokumen resmi; kecuali kata seperti, dan, atau, ataupun kepada. Contoh :Republik Indonesia    
 (k)     huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga pemerintahan, dan dokumen resmi. Contoh :Undang-Undang Dasar 1945                  
 (1)     huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan; kecuali kata di, ke, dan, yang untuk; yang tidak terletak pada posisi awal. Contohnya :     Bukunya berjudul Membongkar Gurita Cikeas         
 (m)   huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Contohnya
 Dr.     →  doktor         
 (n)     huruf pertama kata perkerabatan seperti bapak, ibu, kakak, saudara, dan adik yang dipakai sebagai kata ganti, kata sapaan, atau kata sebutan (pengacuan).  Contoh : "Kapan Bapak berangkat ?" tanya Hasan  
 (o)     huruf pertama kata ganti Anda.  
Contoh : Apakah Anda sudah berkeluarga ?   


Penulisan Kata
Kita mengenal bentuk kata dasar, kata turunan atau kata berimbuhan, kata ulang, dan gabungan kata. Kata dasar ditulis sebagai satu satuan yang berdiri sendiri, sedangkan pada kata turunan, imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) ditulisakn serangkai dengan kata dasarnya. Klau gabungan kata hanya mendapat awalan atau akhiran itu dituliskan serangkai dengan kata yang bersangkutan saja.

Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Pemakaian angka  dua untuk menyatakan bentuk perulangan, hendaknya dibatsai pada tulisan cepat atau pencatat saja. Pada tulisan ynag memerlukan keresmian, kata ulang ditulis secara lengkap.

Gabungan kata termasuk yang lazim disebut kata majemuk bagian-bagiannya dituliskan terpisah. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata dituliskan serangkai. Selai itu, kalua salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, hanya muncul dalam kombinasi, unsur itu harus dituliskan serangkai dengan unsur lainnya.
Kata ganti ku dan kau yang ada pertaliannya dengan aku dan engaku ditulis serangakai dengan kata ynag mengikutinya. Kata ganti ku, mu, dan nya yang pertaliannya dengan aku, kamu, dan dia ditulis serangkai dengan yang mendahuluinya.
                                                                                                                        7
Kata depan , di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali jika berupa gabungan dati kata yang sudah dianggap padu benar, seperti kepada dan daripada.
Parikel “pun” dipisahkan dari kata yang mendahuluinya karena pun sudah hampir seperti lepas.
Partike l”per” yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah dari bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.
Angka dipakai unutk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Tulisan lazim digunakan angak arab atau angka romawi. Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, satuan waktu dan nila uang. Selain itu, angak lazim juga dipai unutk menandai nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat dan digunakan juga untuk menomori karangan atau bagian-bagiannya.

Penulisan Unsur Serapan
Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman dalam bahasa indonesia dapat idbagi atas dua golongan besar.
Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap dalam bahasa indonesia, seperti reshuffle, shuttle, cock, I’exlotaciton, unsur- unsur ini dipakai dalam konteks bahasa indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Kedua unsur asing yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahsa indonesia diusahakan agar ejaan asing hanya diubah seperlunya hingga bentuk indonesianyam masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Disamping itu, akhiran yang berasal dari bahsa asing diserap sebagi bagian kata yang utuh. Kata seperti standardisai, implementasi, dan objektif diserap secara utuh disamping kata standar, implemen dan objek.

Pemakaian Tanda Baca
Pemakaian tanda baca dalm ejaan bahsa indonesia ynag disempurnakan mencakup pengaturan :
Tanda titik
1.  Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
2.   Tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
3.  Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah umum, yang ditulis dengan huruf kecil.
4. Tanda titik digunakan pada angka yang menyatkan jumlah untuk memisahkan ribuan, jutaan dan seterusnya.
5. Tanda titik digunakan pada singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata atausuku kata dan pada singkatan yang dieja seperti kata (akronim).
6. Tanda titik tidak digunakan di belakang singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
7. Tanda titik tidak dugunakan di belakang judul yang merupakan kepala karangan, kepala ilustrasi tebel, dan sebgainya.
8.   Tanda titik tidak digunakan dibelakang alamat pengirim dan tanggal surat serta di belakang nama dan alamat penerima surat.

Tanda titik koma
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

Tanda titik dua
a)      Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengakap bila didikuti rangkaian atau pemerian.
b)      Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan
pelengkapan ynag mengakhiri pernyataan.

Tanda hubung
a)      Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
b)      Tanda hubung dapat dipakai untuk merangkaiakan se dengan kata berikutnya ynag dimulai dengan huruf kapital, ke dengan angka, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.

Tanda pisah
Tanda pisah membatasi penyisipan  kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat, menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga klaimat menjadi lebih jelas, dan dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang bererati ‘sampai dengan’ atau di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’ atau ‘sampai’, panjangnya dua ketukan.

Tanda petik
Tanda petik dipakai unutk mengapit petikan langsung judul syair, karangan, istilah yang mempunyai arti khusus atau kurang dikenal.

Tanda petik tunggal
Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

Tanda apostrof
Tanda apostrof digunakan unutk menyingkat kata. Tanda ini banyak digunakan dalam ragam sastra.

Garis miring
Garis miring dipakai untuk menyatakan :
Dan atau  atau;


Sumber:







Tidak ada komentar: